Membangun metakognisi siswa SMA dalam memecahkan masalah mata pelajaran

Tanggal : 18 May 2022

Ditulis oleh : APRILIA FITRI KOMALASARI

Disukai oleh : 0 Orang

Di Indonesia kualitas pendidikan masih rendah. Sebagai contoh pencapaian prestasi sains dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains, menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004). Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran.
Kurangnya pemahaman siswa disebabkan karena kurangnya kesadaran mereka tentang bagaimana dia belajar. Jika siswa mampu memahami bagaimana dirinya belajar atau yang dikenal dengan istilah metakognisi dan menggunakan keterampilan metakognisinya maka informasi selama pembelajaran dapat masuk ke dalam memori jangka panjang karena metakognisi merupakan sistem yang mengontrol pemrosesan informasi.
Pada sekitar tahun 1976, John Flavell, seorang psikolog Universitas Stanford, menciptakan istilah "metakognisi". Metakognisi, yang dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan metacognition didefinisikan sebagai kognisi tentang kognisi atau pengetahuan tentang pengetahuan. Hal ini dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang kapan dan bagaimana untuk menggunakan strategi dalam pembelajaran dan pemecahan masalah.
Evaluasi guru terhadap hasil belajar, khususnya dalam ranah kognitif, telah berkembang seiring dengan perkembangan psikologi kognitif. Guru saat ini hanya fokus pada tujuan kognitif ketika menilai hasil belajar, mengabaikan dimensi proses kognitif, khususnya pengetahuan metakognisi dan kemampuan metakognisi. Akibatnya, upaya mengajarkan metakognisi kepada siswa dalam memecahkan kesulitan belajar terkadang kurang memadai atau bahkan diabaikan, yang dapat berdampak pada hasil belajar siswa.
Memperkenalkan pengetahuan metakognisi kepada siswa sangat penting dikarenakan metakognisi memiliki peranan penting dalam mengatur dan mengontrol proses-proses kognitif seseorang dalam belajar dan berpikir, sehingga belajar dan berpikir yang dilakukan oleh seseorang menjadi lebih efektif dan efisien.
Blakey & Spence (1990) mengemukakan strategi-startegi untuk meningkatkan keterampilan metakognisi serta membantu siswa dalam memecahkan masalah pembelajaran, yakni: 
Mengidentifikasi “apa yang kau ketahui” dan “apa yang kau tidak ketahui” 
Memulai aktivitas pengamatan, siswa perlu membuat keputusan yang disadari tentang pengetahuan mereka. Pertama-tama siswa menulis “ apa yang sudah saya ketahui tentang ….” dan “apa yang ingin saya pelajari tentang ….” Dengan menyelidiki suatu topik, siswa akan menverifikasi, mengklarivikasi dan mengembangkan, atau mengubah pernyataan awal mereka dengan informasi yang akurat.
Berbicara tentang berpikir (Talking about thinking) 
Selama membuat perencanaan dan memecahkan masalah, guru boleh “menyuarakan pikiran”, sehingga siswa dapat ikut mendemonstrasikan proses berpikir. Pemecahan masalah berpasangan merupakan strategi lain yang berguna pada langkah ini. Seorang siswa membicarakan sebuah masalah, mendeskripsikan proses berpikirnya, sedangkan pasangannya mendengarkan dan bertanya untuk membantu mengklarifikasi proses berpikir.
Membuat jurnal berpikir (keeping thinking journal) 
Cara lain untuk mengembangkan metakognisi adalah melalui penggunaan jurnal atau catatan belajar. Jurnal ini berupa buku harian dimana setiap siswa merefleksi berpikir mereka, membuat catatan tentang kesadaran mereka terhadap kedwiartian (ambiguities) dan ketidakkonsistenan, dan komentar tentang bagaimana mereka berurusan/menghadapi kesulitan.
Membuat perencanaan dan regulasi-diri 
Siswa harus mulai bekerja meningkatkan responsibilitas untuk merencanakan dan meregulasi belajar mereka. Sulit bagi pebelajar menjadi orang yang mampu mengatur diri sendiri (self-directed) ketika belajar direncanakan dan dimonitori oleh orang lain. 
Melaporkan kembali proses berpikir (Debriefing thinking process) 
Aktivitas terakhir adalah menfokuskan diskusi siswa pada proses berpikir untuk mengembangkan kesadaran tentang strategi-strategi yang dapat diaplikasikan pada situasi belajar yang lain. Metode tiga langkah dapat digunakan; Pertama: guru mengarahkan siswa untuk mereviu aktivitas, mengumpulkan data tentang proses berpikir; Kedua: kelompok mengklasifikasi ide-ide yang terkait, mengindentifikasi strategi yang digunakan; Ketiga: mereka mengevaluasi keberhasilan, membuang strategi-strategi yang tidak tepat, mengindentifikasi strategi yang dapat digunakan kemudian, dan mencari pendekatan alternatif yang menjanjikan.
Evaluasi-diri (Self-evaluation) 
Mengarahkan pengalaman-pengalaman evaluasi-diri dapat diawali melalui pertemuan individual dan daftar-daftar yang berfokus pada proses berpikir. Secara bertahap, evaluasi-diri akan lebih banyak diaplikasikan secara independen.
Semakin banyak strategi yang diberikan kepada siswa dalam mengikuti, mengkode, menyimpan, mentransfer, dan memecahkan masalah, maka semakin menjadikan pembelajaran menjadi “self-learner” dan pemikir yang independen.




POST TERKAIT

POST TEBARU