Menanamkan Budaya Literasi di Tengah Pandemi

Tanggal : 25 Mar 2021

Ditulis oleh : STEVANI NURJANAH

Disukai oleh : 1 Orang

Semenjak ditetapkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Covid-19 sebagai Bencana Nasional, anjuran pemerintah untuk tetap di rumah saja terus disosialisasikan. Sebagian orang beranggapan bahwa di rumah saja adalah hal yang membosankan karena tidak adanya kegiatan. Biasanya mereka cenderung tidak melakukan kegiatan apa-apa ketika di rumah saja. Padahal terdapat banyak sekali kegiatan untuk mengisi waktu lapang di rumah, misalnya dengan memperdalam kemampuan Literasi.

Pada umumnya ketika mendengar kata“Literasi” selalu dikaitkan dengan istilah membaca dan menulis. Padahal di zaman globalisasi ini, makna literasi bukan hanya sekedar kegiatan membaca dan menulis, melainkan memiliki definisi yang lebih luas.Literasi juga dapat diartikan sebagai tindakan memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, menghitung, mengolah, mentransformasi, dan memecahkan suatu masalah dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, literasi dapat disimpulkan dengan istilah “melek”,dimana dalam diri sesorang terdapat rasa ingin tahu dan peduli dengan apa yang sedang terjadi sekarang ini. Dengan kata lain, seseorang dapat menyesuaikan atau memposisikan diri terhadap perubahan dan perkembangan zaman. Terlebih lagi di era yang serba modern ini dimana perkembangan teknologi yang semakin canggih sehingga memengaruhi keberlangsungan kehidupan, tentu saja kemampuan literasi sangat dibutuhkan. Setelah mengetahui definisi literasi, maka perlu tahu kemampuan literasi apa saja yang harus dikuasai.

Terdapat enam literasi dasar yang harus dimiliki peserta didik maupun masyarakat luas sebagaimana anjuran dari Kemdikbud.Literasi ini sering dideklarasikan dengan sebutan Gerakan Literasi Nasional (GLN).Tentunya enam dasar literasi ini dapat dipelajari di masa-masa pandemi seperti sekarang ini. Keenam literasi tersebut diantaranya:Pertama, literasi baca dan tulis merupakan

literasi yang paling dasar. Umumnya literasi

ini diajarkan sejak dini. Dalam hal ini, se?seorang harus cakap membaca, menulis,

mencari, mengolah, menelusuri dan mema?hami informasi kemudian dianalisis, ditang?gapi atau dapat juga dituangkan dalam tulisan.

Literasi ini bertujuan untuk mengembangkan

pemahaman dan potensi diri. Sebagai contoh

penerapan literasi baca dan tulis adalah

mengisi waktu lapang di rumah dengan

membaca buku atau novel kesukaan.

 Jika tidak mempunyai novel atau buku,

dapat mencari di perpustakaan online yang

diakses lewat telepon genggam (smart?phone). Di zaman yang serba mudah, tidak

ada alasan sulit untuk mengakses buku karena

sudah tersedia banyak e-book atau buku

digital di perpustakaan online. Kedua, literasi

numerasi merupakan kemampuan, pengeta?huan, dan kecakapan dalam memperoleh,

menterjemahkan, menginterpretasikan,

menggunakan, dan mengkomunikasikan ber?macam-macam angka dan semua yang ber?hubungan dengan matematika.

Selain itu, literasi numerasi juga menca?kup kemampuan menganalisis dan membaca

informasi yang disajikan dalam berbagai ben?tuk grafik, tabel, bagan, dan sebagainya.

Dalam konteks ini, literasi numerasi da?pat diterapkan dengan merencanakan dan me?ngelola pengeluaran sehari-hari, seperti mem?buat shopping list ketika akan berbelanja.

Perencanaan sebuah pengeluaran merupakan

hal yang menguntungkan, terlebih lagi saat

pandemi. Jadi, kita dapat mengetahui barang

mana yang harus dibeli dan barang yang tidak

terlalu dibutuhkan. Ketiga, literasi sains

adalah kemampuan mengidentifikasi masalah

atau topik, memperoleh pengetahuan baru,

menjelaskan fenomena alamiah secara

objektif, serta kemauan untuk terlibat dan

peduli dengan isu-isu atau masalah yang ter?kait sains.

Di masa pandemi literasi ini dapat dimulai

dari menanam tanaman obat di sekitar rumah

atau membuat minuman herbal untuk menjaga

kekebalan imun. Selain itu, peduli mengenai

gejala-gejala dan bahaya Covid-19 juga ter?masuk penerapan literasi sains. Keempat, li?terasi digital merupakan pengetahuan dan ke?cakapan ketika menggunakan media digital,

alat-alat komunikasi, maupun jaringan sehi?ngga dapat menemukan, mengevaluasi, me?nggunakan, membuat informasi, dan meman?faatkannya secara bijak dan tepat. Ketika di

rumah saja pasti banyak waktu yang diha?biskan untuk bermain media sosial seperti

instagram, facebook, twitter dan sebagainya.

Media sosial merupakan tempat bertukar

kabar, mencari informasi dan melihat berita.

Namun, media sosial akan menjadi sumber

masalah apabila tidak digunakan dengan bijak.

Misalnya penyebaran berita hoax yang

sekarang marak terjadi. Jika masyarakat tidak

melek literasi digital maka akan mudah ter?provokasi sehingga memicu tindakan- tindak?an anarkis. Kelima, literasi finansial adalah

kemampuan mengaplikasikan pemahaman

mengenai konsep dan risiko, keterampilan,

motivasi serta pemahaman untuk membuat

keputusan yang efektif dalam konteks finan?sial sehingga dapat meningkatkan kesejah?teraan finansial. Contoh sederhana literasi

finansial adalah menabung uang di bank.

Menyimpan uang di bank memiliki berbagai

macam keuntungan dan menjaga uang agar

tetap aman.

Di masa pandemi juga dapat menerapkan

literasi finansial dengan mengetahui bagaima?na cara menggunakan e-Money atau uang

elektronik. Keenam, Literasi Budaya dan Ke?wargaan. Literasi budaya adalah pengetahuan

dan kecakapan dalam memahami dan bersi?kap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai

identitas bangsa. Sementara itu, literasi ke?wargaan adalah pengetahuan dan kecakapan

dalam memahami hak dan kewajiban sebagai

warga masyarakat. Tidak malu menggunakan

bahasa daerah merupakan contoh penerapan

literasi budaya. Akan tetapi, pada kenyata?annya anak muda zaman sekarang lebih sering

menggunakan bahasa Indonesia dan melupa?kan bahasa daerah karena bahasa daerah di?anggap kuno.

Lain halnya dengan penerapan literasi ke?wargaan. Penerapan literasi ini dapat dimulai

dengan saling menghargai perbedaan antar ras,

agama, suku, kebiasaan, adat istiadat, dan la?pisan sosial. Masyarakat harus toleransi dan

hormat-menghormati terhadap semua perbe?daan. Tidak membeda-bedakan antar sesama

adalah kunci kemaslahatan bermasyarakat.

Keberhasilan literasi dapat terjadi jika seluruh

elemen masyarakat dan pemerintah bekerja

sama menggalakan gerakan literasi. Menge?dukasi masyarakat betapa pentingnya literasi

merupakan salah satu langkah awal memulai

gerakan literasi. Selain itu, pemerintah

diharapkan membangun dan meningkatkan

infrastruktur perpustakaan dan akses internet

di daerah-daerah terpencil. Masa pandemi

ini pemerintah juga diharapkan dapat men?sosialisasikan gerakan literasi dengan intensif

agar terciptanya SDM yang berpikir kritis

dan berwawasan luas.

Budaya literasi harus ditanamkan dan di?biasakan sedini mungkin. Ketika di rumah

saja, mempelajari dan menerapkan keenam

literasi ini bisa menjadi salah satu cara mengisi

waktu luang. Di samping itu, menguasai enam

dasar literasi juga merupakan kesiapan me?nghadapi bonus demografi di masa menda?tang. Masyarakat diharapkan memaksimal?kan kemampuan literasi untuk menghadapi

persaingan masa bonus demografi. Pandemi

bukan berarti pasrah dengan keadaan, tetapi

pandemi mengajarkan kita bagaimana tetap

bertahan dengan segala keterbatasan. Produk?tif dan berani mencoba hal-hal baru adalah

cara terbaik menyikapi pandemi.




POST TERKAIT

POST TEBARU