Mental Break Down disaat Dunia Burn Out
Tanggal : 31 Aug 2021
Ditulis oleh : Zahara Naufallinda Sidik
Disukai oleh : 0 Orang
Dunia semakin hari semakin memprihatinkan, ditambah dengan kondisi yang belum membaik sampai sekarang. Virus yang tidak terlihat justru memporak – porandakan seluruh Dunia. Sudah lebih dari satu tahun Covid -19 menetap, khususnya di Indonesia. Berbagai dampak telah dirasakan oleh masyarakat dari mulai ekonomi, social, pendidikan, fisik atau non-fisik dan terutama kesehatan mental. Kesehatan mental salah satu dampak yang paling terasa belakangan ini.
Adanya pandemi ini menyebabkan stres untuk masyarakat. Kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan merupakan respon yang normal pada ancaman yang ada. Di tengah Dunia yang sedang ketar – ketir memperbaiki beberapa hal yang terdampak oleh pandemi ini, beriring dengan masyarakat yang semakin hari semakin down mentalnya. Terlebih aktivitas sosial sangat dibatasi untuk saat ini.
Umumnya kita menganggap bahwa diri kita baik – baik saja, terkadang bahkan abai terhadap mental sendiri. Banyak komunitas yang membuka volunteer perihal mental health awarness. Ini menandakan bahwa kesehatan mental masyarakat khususnya mahasiswa sedang tidak baik – baik saja. Selain itu, pemuda – pemudi khususnya pelajar sangat antusias dan aware terhadap kasus ini. Bahkan ajakan untuk campaign sedang tren di media sosial.
Bagi mahasiswa ada saja dimana tugas akademik menjadi hal yang berat, bahkan dirasa tugas tersebut di luar kemampuannya. Bahkan terkadang akibat tekanan yang dirasa mood swing kerap terjadi, lima menit senang selang lima menit sedih. Bahkan yang lebih parah marah – marah sendiri. Selain itu, faktor yang menyebabkan itu terjadi adalah kegiatan sosial yang dibatasi.
Pendidikan yang normal sekarang tidak dapat dirasakan lagi, banyak tenaga pendidik dan peserta didik yang mengeluh karena tidak dapat sekolah secara normal. Tugas diberikan setiap hari, keterbatasan materi yang di dapat, dari pagi sampai petang tidak henti menatap layar. Terkadang situasi seperti itu membuat mental peserta didik menjadi tidak stabil dan bisa menjadikan mentalnya breakdown. Bahkan sering kali kita menganggap stres yang disebabkan masalah sosial atau pekerjaan adalah hal yang wajar.
Meskipun dampak dari stres tersebut tidak langsung dirasakan tetapi, apabila kita terus membiarkan pikiran kita stres akan menyebabkan masalah mental yang serius. Biasanya mental breakdown dirasakan karena seseorang sudah tidak dapat mengatasi stresnya. Sebenarnya istilah mental breakdown itu bukan istilah medis, melainkan istilah populer.
Mental breakdown merupakan kondisi kesehatan mental yang disebabkan karena stres atau cemas yang berlebihan dan juga dapat mengganggu aktivitas keseharian. Kondisi seperti ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya karena terlalu banyak pekerjaan yang tidak selesai – selesai atau bahkan bisa saja akibat riwayat gangguan kesehatan mental. Karena, dengan kita bersosialisasi dengan orang lain bisa membuat suasana hati lebih senang, tenang dan dapat menciptakan suasana yang positif.
Menurut (Yustinus, 2006) kesehatan mental adalah ilmu yang membahas kehidupan jiwa seseorang menjadi agen yang paling sempurna. Sedangkan, kesehatan jiwa menurut WHO (World Health Organization) dimana seseorang merasa sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan dalam hidup serta menerima orang lain dan memiliki sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Kesehatan mental juga merupakan kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social untuk menyadari kemampuan sendiri dan dapat mengatasi tekanan serta mampu memberikan kontribusi.
Hal yang bisa dilakukan untuk menjaga mental tetap sehat di era pandemi seperti ini salah satunya adalah penyesuaian diri. Aspek ini sangat penting untuk mengendalikan diri terhadap rintangan. Salah satu cara untuk menyesuaikan diri, dengan mengubah mindset dan memotivasi diri sendiri. Selain itu, dapat melakukan hal yang disukai. Karena itu membantu untuk menciptakan suasana yang produktif sehingga, kita tidak terpaku pada pikiran yang membuat mood kita turun.
Selain itu, diperlukan dukungan untuk mengelola kesehatan mental. Salah satunya factor spiritual dan religious. Semakin tinggi faktor religious maka semakin tinggi kesehatan mentalnya begitu pun sebaliknya. Karena banyaknya factor penyebab stress, maka kita perlu mempertahankan diri dengan optimal, dan harus mampu mengelola kesehatan mental pribadi sendiri, misalnya mengetahui keadaan emosional sendiri. Lalu kita harus mempunyai strategi untuk mengatasi kecemasan yang dimiliki.
Salah satu teknik yang dapat dipakai untuk mengendalikan mental kita adalah self – talk. Self – talk ini merupakan dialog internal terhadap diri sendiri yang dipengaruhi pikiran bawah sadar dengan menyuarakan apa yang kita rasakan, sehingga bisa menjadi sugesti bagi diri sendiri. Manfaat dari melakukan self – talk adalah membantu berdamai dengan situasi yang tidak bisa dikontrol, dapat meredakan stress, selain itu situasi yang menyebabkan kita takut akan mudah untuk dilewati.
Kesehatan mental adalah aspek yang penting untuk mewujudkan kesehatan yang menyeluruh. Setiap orang harus menjaga kesehatan mentalnya, apabila terlalu cemas ini akan menimbulkan ketidakseimbangan di otak yang akan menyebabkan gangguan psikis. Selain itu, ketika seseorang stress atau cemas secara berlebihan akan mempengaruhi imun dalam tubuhnya yang menyebabkan tubuh mudah terserang penyakit. Maka dari itu untuk menghindari mental breakdown, cobalah untuk mengurangi stigma yang negative, kurangi kegiatan yang membuat cemas dan stress, serta berpikir optimis dalam menghadapi pandemic ini.
link e-paper harian momentum
http://m.harianmomentum.com/read/36094/harian-momentum-edisi-30-agustus-2021