Menuju Indonesia maju dengan pendidikan anak usia dini
Tanggal : 21 Apr 2022
Ditulis oleh : APRILIA FITRI KOMALASARI
Disukai oleh : 0 Orang
Menuju Indonesia Yang Maju Dengan Pendidikan Anak Usia Dini
Oleh : Aprilia Fitri Komalasari
Mahasiswa Pendidikan Kimia
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Beberapa tahun ini capaian belajar siswa Indonesia sangat turun, dibuktikan dengan adanya tes global Progamme For International Students Assesment (PISA) skor murid Indonesia menduduki 10 peringkat terbawah dengan skor dibawah rata-rata 79 negara peserta dari tahun 2009-2018 pada anak usia 15 tahun. Tahun 2018 dapat dikatakan hanya satu dari tiga anak Indonesia yang memenuhi level minimal untuk kemampuan membaca.
Dalam laporan Trends In International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2015 anak Indonesia pada jenjang kelas 4 tidak memiliki pengetahuan Matematika dasar yang memadai dengan persentase 27%. Maka dari itu dibutuhkan upaya untuk meningkatkan capaian belajar siswa Indonesia. Dari beberapa peneliti yang meneliti tentang capaian belajar siswa, dapat disimpulkan intervensi yang baik pada usia dini (0-6 tahun) bisa jadi solusi untuk mendukung upaya peningkatan capaian pendidikan.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatau upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan dengan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Para ahli perkembangan otak anak menyatakan anak usia 0-4 tahun perkembangan otaknya sudah mencapai 50% dan pada usia 18 tahun perkembangan otaknya sudah mencapai kesempurnaan (100%). Hal ini selaras dengan penelitian yang menyatakan bahwa 85% proses pembentukan kognisis dan otak anak terjadi hingga usia 6 tahun.
Kualitas hidup anak pada usia dini memiliki dampak yang signifikan pada perkembangan kognitif mereka saat tumbuh dewasa, dan pada akhirnya mempengaruhi capaian pendidikan pada jenjang berikutnya di sekolah dasar hingga kuliah.
Hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah, orang tua serta guru adalah perbaikan pada sistem PAUD, perbaikan asupan gizi serta nutrisi anak, dalam bentuk menstimulus, membimbing dan mengasuh serta pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak yang disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang dilalui anak usia dini. Hal tersebut berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14.
Perbaikan sistem PAUD, sistem PAUD di Indonesia bisa dikatakan belum optimal dari segi sumber daya dari beberapa institusi, segi kualitas dan lain sebagainya. Tenaga pengajar PAUD yang memiliki gelar sarjana hanya terdapat 32% dan untuk lulusan SMA terdapat 68%. PAUD di Indonesia tidak memgang akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) sebanyak 80%.
Perbaikan asupan gizi serta nutrisi anak sangat mempengaruhi siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu indikator capaian Indonesia dalam asupan gizi anak dilihat dari angka stunting (tubuh pendek akibat kekurangan gizi). Pada tahun 2018 Laporan Nutrisi Global (GNR) menunjukkan penurunan angka stunting pada balita Indonesia, dari 42% pada tahun 2000 menjadi 27,67% pada tahun 2019.
Harapannya, pemerintah dapat memperhatikan lagi pemetaan yang lebih akurat tentang adanya PAUD untuk meningkatkan capaian belajar siswa dan juga pengembangan riset terkait pendidikan anak. Hal ini tidak hanya PR untuk pemerintah tapi juga untuk orang tua serta guru dikarenakan intevensi pada anak usia dini yang lebih optimal akan meberi dampak yang signifikan bagi peningkatan capaian belajar siswa Indonesia.