Tradisi Kenduri Mempererat Tali Silaturahmi
Tanggal : 15 Sep 2021
Ditulis oleh : WINDI LISTYANI
Disukai oleh : 0 Orang
Jawa merupakan salah satu pulau terkenal dengan masyarakatnya yang masih mempertahankan adat dan tradisi didalamnya. Kebudayaan yang masih kental juga nampak pada masyarakat jawa. Salah satu tradisi dalam masyarakat jawa ialah Kenduri. Tradisi kenduri adalah suatu acara rutin yang dilakukan ketika seseorang yang meninggal, perkawinan, menempati rumah baru, kematian ataupun penanggalan jawa. Dalam masyarakat jawa kenduri merupakan tradisi kebudayaan turun temurun yang sebagian dilaksanakan oleh masyarakat agar segala sesuatu hajat maupun doa dapat dikabulkan oleh tuhan
Hakikatnya kenduri masih menjadi salah satu tradisi masyarakat jawa yang dapat mempererat tali silaturahmi. Tradisi ini sering juga disebut dengan slametan, yang saat ini masih banyak dilakukan oleh segala lingkup masyarakat baik perkotaan maupun pedesaan. Beberapa daerah di pedesaan masih banyak yang memegang tradisi dari nenek moyangnya meski banyak yang sudah berbeda seiring dengan tuntutan zaman. Namun nilai ritual didalamnya tetap dipertahankan sebagaimana yang ada.
Tradisi kenduri yang dilaksanakan yang hakikatnya untuk berdoa agar keinginan dapat di kabulkan oleh Tuhan. Dalam lingkup yang luas, kenduri juga diadakan saat merayakan peringatan tertentu, seperti muludan, rajaban, dan lain-lain. Acara kenduri dalam lingkup yang lebih besar akan diadakan di masjid atau ruangan terbuka. Lalu acara kenduri akan dipimpin oleh sang kyai, pemuka agama yang alim atau sesepuh yang dilingkungan tersebut. Jika kita amati dan cermati, acara kenduri yang masih ada di daerah-daerah pedesaan masih erat kaitanya dengan slametan.
Dalam acara kenduri di lingkup kecil atau rumah warga, acara akan dimulai setelah kerabat dan tetangga yang diundang sudah hadir. Biasanya tradisi kenduri dimulai dengan sambutan dari tuan rumah. Lalu setelah itu acara dilanjutkan dengan pembacaan doa tahlil atau pembacaan surat yasin dan tahlil sesuai kehendak dari tuan rumah. Oleh karena tradisi kenduri saat ini lebih dikenal dengan istilah tahlilan atau yasinan. Pembacaan doa akan dipimpin seorang kyai dan diikuti semua yang hadir dalam acara kenduri. Setelah pembacaan doa, acara ditutup dengan makan bersama. Setelah makan, akan ada pembagian berkat kepada tetangga yang sudah hadir.
Pada zaman dulu, bentuk berkat yaitu makanan lengkap dengan lauk pauk sederhana ala jawa yang dibungkus menggunakan besek, yaitu wadah yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk segi empat. Sedangkan masa kini, berkat dibungkus menggunakan plastik, bahkan berkat masa kini isinya berupa makanan mentah yang belum dan diolah. Berkat ini yang nantinya dibawa pulang oleh tamu undangan setelah acara selesai. Berkat ini sebagai bentuk shodaqoh dari tuan rumah.
Banyak kalangan yang berpendapat bahwa tradisi kenduri erat kaitanya dengan peranan Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat di jawa. Adapula yang berpendapat bahwa tradisi kenduri erat dengan pengaruh unsur Hindu-Budha. Unsur animism-Dinamisme juga salah satu unsur yang paling menonjol dalam acara tradisi kenduri, terutama kenduri yang dilakukan oleh orang islam kejawen. Segala sesuatu itu pasti akan berubah dengan adanya tuntutan zaman. Sebuah perubahan sosial selalu berkaitan dengan berubahnya budaya. Kebudayaan itu dihasilkan oleh masyarakat , dan tidak ada masyarakat yang tidak menghasilkan kebudayaan.
Tradisi Kenduri penuh dengan unsur-unsur kepercayaan Animisme-Dinamisme, kemudian ditambahi dengan unsur Hindu-Budha serta Islam. Setiap penambahan unsur dalam tradisi kenduri maka akan juga merubah bentuk kenduri. Hal ini menunjukkan bahwa segala sesuatu dapat berubah seiring dengan zaman. tradisi kenduri pada zaman sekarang masih ada,hanya saja sudah berubah sebab nilai-nilai kejawen yang ada didallamnya sedikit demi sedikit memudar tergeser dengan ajaran Islam yang semakin kuat.
Jika dahulu tradisi kenduri sebagai salah satu bentuk ritual keagamaan sakral, kini kenduri sebagai sarana shodaqoh serta mempererat tali silaturahmi antar anggota masyarakat. Dengan adanya tradisi kenduri, diharapkan komunikasi antar masyarakat terjalin dengan baik dan solidaritas dari masyarakat terjalin dengan baik. Tanpa tradisi kenduri seharusnya masyarakat juga memahami bahwasannya solidaritas itu harus dijaga. Selain itu, Masyarakat juga harus menjaga kebudayaan yang telah ada dalam masyarakat, namun juga jangan terpaku dengan kebudayaan yang telah ada sejak zaman dahulu.